FASILITAS PENDUKUNG

Tempat Ibadah

Nama

Alamat

Masjid Raya Pasar Pariaman

Masjid Raya Air Pampan

Masjid Tepi Air

Masjid Piaman

Masjid Nurul Huda

Masjid  Al Hidayah

Masjid Raya Kp Baru

Masjid Nurul Bahari

Kampung Perak

Jawi-Jawi II

Kp Belacan

Sp Kp Cino

Kp Tarandam

Kp Pondok

Kp Baru

Pasir Pariaman

Rumah Sakit dan Puskesmas

Nama

Alamat

RSUD Pariaman

Puskesmas Pariaman Tengah

Puskesmas Pariaman Utara

Puskesmas Pariaman Selatan

JL. M Yamin Kp Baru Pariaman

Pauh Pariaman

Naras

Kurai Taji

Hotel & Penginapan

Nama

Alamat

Nan Tongga Beach Hotel

Wisma Esra

Wisma Cindurmato

Penginapan Surya

Penginapan  Atami

Jl. Tugu Perjuangan Pariaman

Jl. Dr.M. Djamil Pariaman

Jl Diponegoro Kp Pondok

Jl. SB Alamsyah Pariaman

Jl. A.Yani Pariaman

Rumah Makan & Restoran

Nama

Alamat

RM Pauh

RM Bintang Timur

RM Bahagia

Pondok Lasuang

RM Pondok Salero

RM Pondok Bang Kamil

RM Anda

RM Labuah Raya

RM One

RM Ombak Badabua

M Angin Berembus

RM Bungo Tanjuang

Ambo Siko

Muda Mudi ( Labai )

RM Mesra

Bakso Taratak

Restu Bunda

Jl.Dr.M.Djamil

Pasar Pariaman

Pasar Pariaman

Pakasai Padusunan

Pasir Pariaman

Pasir Pariaman

Pasir Pariaman

Pauah Pariaman

Kurai Taji Pariaman

Pasir Sunur Pariaman

Pasir Sunur Pariaman

Depan Mesjid Tepi Air

Kp Cina Pariaman

Jl.Pahlawan

Jl.Sm Jamil Kp Perak

Taratak

Depan BPD Pariama

 

WISATA BUDAYA

PESTA TABUIK DAN FESTIVAL ANAK NAGARI PIAMAN

Pesta Budaya Tabuik merupakan salah satu grand event pariwisata nasional yang diadakan setiap tahun sekali di Kota Pariaman. Kegiatan ini digelar dalam rangka menyambut Tahun Baru Hijriyah (tahun baru Islam). Proses pelaksanaan pesta tabuik dilakukan selama 10 hari dimulai sejak tanggal 1 s/d. tanggal 10 Muharram tahun Hijriyah sesuai dengan kronologis terjadinya prosesi perang karbala pada zaman Hosen cucu Nabi Muhammad SAW, yang berakibat terbunuhnya Husen secara menggenaskan, akan tetapi mendapat anugrah dari Allah SWT, diangkat kelangit dengan suatu kenderaan mukjizat.

Secara berurutan prosesi Pesta Tabuik Piaman dirayakan dengan 7 macam kegiatan, dimana setiap kegiatan memberikan makna kebesaran Allah SWT. dalam menegakan dan mensyiarkan Islam.

Menurut sejarah Tabuik berasal dari orang India yang tergabung dalam pasukan “Islam Thamil” dibawah kepemimpinan “Thomas Stamfor Rafles” pada masa kolonialisme Inggris di Bengkulu (1826). Setelah perjanjian London (17 Maret 1829), Bengkulu jatuh ketangan Belanda, dan Inggris menguasai Singapura, hal itu menyebabkan pasukan Thamil yang berada di Bengkulu menyebar, diantaranya ada yang sampai ke Pariaman. Pariaman waktu itu sangat terkenal sebagai pangkalan laut (pelabuhan kapal laut) yang cukup ramai. Sesampai di Pariaman tradisi merayakan tabuik oleh Kelompok Islam Thamil tetap mereka lakukan, maka sejak saat itu Perayaan tabuik menjadi budaya masyakat Pariaman.

Sebagaimana diketahui makna dari peringatan Tabuik adalah dalam rangka memperingati kematian Hasan dan Hosen, cucu Nabi Muhammad S.A.W.

Dalam perang Karbala di Madinah, dimana dalam perang Bani Umayah dari Syiria dibawah pimpinan Raja Yazid dengan kelompok Islam yang dipimpin oleh Hasan dan Hosen, yang menimbulkan kematian mengenaskan dipihak Hosen. Namun, berkat kebesaran Allah SWT jenazah Hosen tiba-tiba diusung ke langit dengan menggunakan kendaraan “Bouraq” sejenis binatang berbadan kuda tegap berkepala manusia serta mempunyai dua sayap lebar membawa sebuah peti (jenazah) yang berumbul-umbul seperti payung mahkota arna warni, inilah yang disebut dengan “Tabuik”.

Adapun perayaan Pesta Budaya Tabuik Piaman pada saat sekarang ini lebih difokuskan kepada nilai pariwisata, dengan penyesuaian-penyesuaian yang sewajarnya.

KRONOLOGIS TABUIK

Mengambil Tanah

Tanggal 1 Muharram

Kegiatan mengambil tanah dilaksanakan tepat pada tanggal 1 bulan Muharram merupakan awal pelaksanaan Pesta Budaya Tabuk. Pengambilan tanah dilakukan oleh dua kelompok Tabuik yang akan difestivalkan yaitu kelompok “Tabuik Pasar” dan kelompok “Tabuik Subarang”. Waktu pelaksanannya pada petang hari tanggal 1 Muharram tersebut.

Masing-masing kelompok Tabuik mengambil tanah pada tempat yang berbeda dan berlawanan arah. Tabuik Pasar di dendangkan Tabuik subarang di desa Galombang. Jarak masing­-masing dari rumah pembuatan tabuik + 1.600 meter. Petugas pengambil tanah ini ditetapkan seorang laki-laki dengan pakaian putih (jubah), sebagai lambang kejujuran kepemimpinan Hosen. Tanah yang diambil dimasukkan ke dalam ” Daraga ” berupa kotak yang menyimbolkan kuburan Hosen, lalu dibawa dengan arak-arakan ke ‘Rumah Tabuik’ diiringi bunyi “Gandang Tasa” bertalu-talu yang dimainkan oleh anak nagari. Bunyi Gendang Tasa yang energik memberikan semangat kepada arak-arakan.

Manabang Batang Pisang

Tanggal 5 Muharram

Menebang batang pisang merupakan kegiatan melambangan ketajaman pedang dalam perang menuntut balas atas kematian Hosen. Menebang batang pisang dilakukan oleh seorang laki-laki dengan berpakaian putih (jubah). Batang pisang ditebang menggunakan pedang tajam dengan sekali pancung harus putus. Keg iatan       ini dilakukan dalam waktu bersamaan di tempat yang berbeda oleh dua kelompok Tabuik (Pasar dan Subarang). Pada saat kembali, juga akan terjadi peristiwa seperti sewaktu mengambil tanah. Sementara proses pembuatan kerangka bawah tabuik diperkirakan telah berjalan 50 %.

Maatam

Tanggal 7 Muharaam

Tanggal 7 Muharram siang hari kira-kira jam 12.00 dilaksanakan ‘Maatam’ dengan membawa Panja (jari-jari tangan Hosen yang terpotong / dicincang oleh Raja Yazit.

Jari-jari Hosen ini diletakan dalam suatu usungan, dengan khidmat dibawa keliling tempat ‘periuk’ yang dihakikatkan sebagai kuburan Hosen tadi dan dalam berkeliling itu diiringi bersama-sama sambil meratap (menangis) yang dilakukan oleh salah seorang dari kaum pembuat tabuik.

“Ma’atam” artinya mengekspresikan kesedihan atas gugurnya Hosen oleh keganasan kaum kafir.

Maarak Panja (Jari-jari Hosen)

Tanggal 7 Muharram

Tanggal 7 Muharam malam harinya Panja berisi jari-jari hosen tersebut diarak keliling kampung, dengan pengertian agar seluruh masyarakat dapat mengetahui dan melihat tanda / bukti keganasan Raja Yazit yang zalim itu.

Dalam pelaksanaannya selalu dimeriahkan dengan bunyi-bunyian gandang tasa, dan diperapatan bertemunya dua kelompok tabuik akan terjadi seperti peristiwa pertempuran di padang karbala.

Selain itu juga dimeriahkan dengan ‘Hoyak Tabuik Lenong’ yaitu sebuah tabuik berukuran kecil yang diletakan diatas kepala seorang laki-laki, sambil diiringi bunyi gandang tasa bersemangat dan energik.

Maarak Panja (Saroban Hosen)

Tanggal 8 Muharram

Sama halnya dengan malam sebelumnya, diatas Panja saat ini terdapat Sorban Hosen, juga kembali diarak keliling kampung, menunjukan kepada masyarakat akan kebenaran Husen sebagai pemberani dan pembela kebenaran dan tingkah lakunya yang pantas ditiru.

Beberapa orang mengarak sorban, pedang dan kopiah haji Hosen dalam sebuah dulang (panja), sambil diikuti bunyi Gendang Tasa yang bertalu-talu serta hoyak tabuik lenong yang mengebu-gebu.

Festival Tabuik

Tanggal 10 Muharam

Pukul 04.00 WIB dini hari kesepuluh, dua bagian dasar dan puncak tabuik mulai disatukan menjadi sebuah Tabuik lengkap dengan suatu upacara yang disebut “Tabuik Naik Pangkat”. Setelah disatukan kedua bagian tabuik tersebut terlihatlah kemegahan tabuik menculang kelangit dengan ketinggian 7-8 meter, hal tersebut terjadi di dua tempat Tabuik Pasar dan Tabuik Subarang.

Setalah matahari mulai naik, keluarlah arak­-arakan tabuik dengan Burak memmbawa jari­ jari dan saroban seperti dikisahkan sebelumnya.

Dalam pelaksanaan Pesta Tabuik 2 tabuik akan di festivalkan dalam suatu upacara di pusat kota Pariaman, dimana pesta ini dibanjiri oleh banyak orang.

Sore harinya tabuik dibuang ketengah sawang (ke laut), seakan-akan burak terbang membawa arak-arakan naik ke langit,

Sebelum tabuik dibuang disimpan (saroban, jari-jari karena diantaranya ada yang terbuat dari emas dan dipergunakan lagi pesta tahun-tahun selanjutnya.

Upacara pembuangan tabuik ditutup dengan doa pelepas arak-arakan. Setelah terbuangnya tabuik maka para pengunjung berbondong-­bondonglah pulang, dalam hati masing-­masing mengenangkan peristiwa itu, diantaranya ada yang mengucapkan kalimat berbunyi : A;i Bidayo, Ali Bidansyah, Yaa Hosen, namun pengertian dari kata-kata itu tidak pula pernah menjadi pertanyaan bagi pengikut tabuik sejak dulunya.

PENUTUP

Tiap-tiap gerakan yang bersangkutan dengan upacara tabuik ini dipelopori dengan arak-arakan bendera yang merupakan lambang dalam barisan perang, dipersenjatai secara simbolik dengan dua buah sewah yang tonggaknya dililit dengan kain tiga warna (merah-kuning-hitam). Arak-arakan digembirakan dengan gendang tasa seakan-akan genderang perang yang menghembuskan semangat juang pada tentara yang sedang menuju medan perang.

Tiga hari sesudah tabuik dibuang, daragapun (yang tidak dari batu) dibuang ke laut, artinya dibuang syarat-syarat yang terpakai untuk membuat daraga itu.

WISATA SEJARAH

Pulau Angso Duo ” Kuburan Panjang”

Lebih kurang 2 mil dari pantai Pariaman, tempatnya berhadapan dengan Pantai Gandoriah, terapung-apung berjejer 4 buah pulau kecil. Pulau-pulau ini ada yang bernama, Pulau Tangah, Pulau Ujuang, Pulau Kasiak dan Pulau Ansoduo. Pulau Ansoduo paling dekat dengan pantai dekat dengan pantai Gandoriah, dapat ditempuh dengan memakai perahu/speedboat antara 10-15 menit, antara Gandoriah dan pulau Anso pernah dilaksanakan lomba renang.

Di pulau Ansoduo ini terdapat sebuah pusara yang disebut ‘kuburan panjang, + 4,5 meter dan beberapa kuburan lainnya. Sampai saat ini masih menjadi pertanyaan siapa yang berkubur dalam pusara tersebut, tapi menurut cerita beliau adalah Wali Allah yang datang dari Negeri Arab pada masa yang tidak dapat dibilang.

Untuk sampai di pulau Ansoduo, kita dapat menggunakan perahu / speed boad dari pantai Gandoriah dengan lama perlayaran 10-15 menit.

GUCI GADANG BADANO

Desa Sungai Rotan, terletak + empat kilo meter dari pusat Kota Pariaman, diwilayah Kecamatan pariaman Selatan. Pada desa ini terdapat sebuah Masjid yang dikenal dengan nama Masjid Badano. Alkisah dimasjid ini terdapat sebuah Guci Besar yang juga dinamai dengan guci badano.

Guci yang cukup tua ini berasal dari temuan masyarakat pada sebuah anak sungai disekitar masjid, konon khabarnya adalah dari peninggalan cenek moyang. Secara bergotong-royong masyarakat memindahkan guci tersebut ke mesjid Badano ditempatkan dekat dengan kulah air wuduk, diberi kedudukan dengan beton dengan ketinggian dari permukaan tanah + 75 centimeter.

Menjadi suatu keajaiban bahwa air yang ada didalam guci sejak dahulunya tidak pernah kering, selalu terisi air bersih hingga leher guci.

Menjadi ritual oleh lapisan masyarakat di sekitar Sungai Rotan, dan bahkan dari daerah yang jauh mereka dengan sengaja melaksanakan acara turun mandi anak, dengan memanfaatkan air yang terdapat dalam guci besar badano ini. Sering kali air dalam guci ini diambil sebagai obat, dan bila seseorang sedang menderita sakit dalam yang cukup lama, kaum keluarganya membawa dan memandikan sisakit dengan air guci ini malam hari.

Sekarang Guci Besar Badano tetap diminati oleh banyak orang yang datang dari berbagai tempat, yang ingin mendapatkan kasiat dan keistimewaan air dari guci keramat itu.

PANTAI SUNUR

Berbeda dengan objek wisata yang lain, pantai Sunur memiliki ciri khas dengan kedai nasi ‘lauak capa’ sambil makan dalam suasana sejuk hembusan angin sepoi-sepoi basa. Setiap hari kita bisa menikmati makan nasi gulai lauak capa sambil memandang ke laut lepas.

Gulai lauak Capa merupakan makanan khas setiap kedai nasi di pantai Sunur. Kita akan menikmati makan nasi bungkus ‘daun badiang’ dengan sambal ikan ‘gulai capa’. Sambil memandang ke laut lepas dihalangi Pulau Tangah dan Anso Duo.

Sepanjang pantai terlintas pemandangan berjejer perahu-perahu nelayan yang tersusun rapi sedang tertambat sebelum nelayan turun kelaut.

PANTAI KATA

Nama ‘Kata” merupakan singkatan dari nama dua desa yang berdekatan yaitu Karan Aur-Taluk. Lokasi wisata kawasan pantai Kata memiliki keindahan tersendiri, selain kerindangan alam dibawah cemara laut, hembusan angin laut, nyaman dan pantai yang bersih.

Pantai Kata terletak + 1.500 meter sebelah selatan Pusat Kota pariaman. Untuk menempuh lokasi ini dengan menggunakan angkutan kota, bendi atau naik ojek.

PANTAI GANDORIAH

Pantai Gandoriah, adalah sebuah taman rekreasi pinggiran Samudera Indonesia yang indah, dibatasi Muara Batang Piaman yang sekaligus pelabuhan kapal nelayan. Letaknya + 100 meter dari pusat Kota Pariaman, dilewati jaringan kereta api wisata yang datang setiap hari Minggu dari Kota Padang. Pasir pantainya halus, bersih dan landai diterpa ombak yang laut yang tenang. Tempat ini sangat baik digunakan untuk wisata keluarga, karena selain memiliki pantainya yang landai dan bersih juga sering para pengunjung mandi air laut, selancar kecil, berperahu ke pulau Ansoduo.

Disekitar pantai Gandoriah ditumbuhi cemara laut yang rindang, sehingga lokasi ini enak dikunjungi. Selain keindahan alam, Pemerintah Kota Pariaman telah membangun sarana bermain anak, fasilitas pertunjukan kesenian, area volley pantai, serta ditunjang dengan banyaknya kedai penjual makanan ciri khas Pariaman.

Pantai Gandoriah mudah ditempuh karena dekat dengan pasar induk, plaza dan pusat perkantoran. Di pantai Gandoriah ini setiap tahun dilaksanakan upacara pembuangan tabut seiring matahari terbenam pada tanggal 10 Muharram.

PANTAI CERMIN

Dari pantai Gandoriah menyusur ke arah selatan sepanjang + 1500 meter melewati jalan taman dibawah pepohonan kelapa rendah dan cemara laut yang rindang, akhirnya kita sampai di Pantai Cerimin (cemara mini). Sepanjang pinggiran pantai banyak dijumpai kedai nasi ‘Sek (santai enak kenyang)’, murah. Disini kita dapat menikmati makanan khan Pariaman seperti; sala lauak, sala udang, sala cumi-cumi, kepiting, sate piaman dan lain-lain. Akhirnya sampai di Cemara Mini (Cermin).

Pantai Cermin adalah sebuah lokasi berdekatan dengan Pandopo Bupati Padang Pariaman. Letaknya + 1,5 km dari pusat Kota Pariaman. Lokasi ini teduh dan sejuk, pantainya luas. Tempat ini menjadi pilihan bagi perkumpulan, sekolah maupun suatu keluarga untuk mengadakan pesta seperti ulang tahun, pentas seni dan hibunran, pergelaran musik sambil bersantai ria.

SURAU PASA

Mesjid Batu Pasar Pariaman

Tidak jauh dari pasar sebelah Timur dikiri bui, ada tiga simpang jalan, sebelah barat jalan ke pasar, terus ke stasiun, ke timur jalan menuju kampung Cina, sebelah selatan jalan menuju kampung Perak. Di kampung Perak inilah berdirinya mesjid Batu Pasar Pariaman. Dari jauh di tepi jalan berdirinya mesjid Batu Pasar Pariaman Dari jauh di tepi jalan terlihat pagar batunya yang indah. Dalam pagar ini tumbuh sebatang pohon jambu yang rasanya manis, dan rindang cabang-cabang batangnya, sungguh menarik hati bagi sang melihatnya. Di belakang mesjid ini berdiri sebuah surau kayu beratapkan seng yang baru dibangun tahun 1925 bekas sekolah agama Madrasahtul falah, yang satu lagi surau kayu perempuan. Keduanya diusahakan oleh Tuan Dja’afar putra dari yang mulia almarhum Sjech Moehammad Djamil.

Sebelah kanan mesjid ini berdiri sebuah surau bemama anjung, dibangun 30 tahun lebih dulu dari mesjid batu. Surau anjung ini terbuat dari pohon kelapa yang telah dibentuk dengan baik sehingga licin dan berakibat hitam. Surau ini beratap rumbia yang baru diganti dengan seng tahun 1931. Di muka surau anjung ini ada sebuah kubah Saw yang belum beratap, dibuat pada tahun 1927. Kubah inilah makamnya yang mulia Sjech Moehammad Djamil yang membuat surau anjung dan mesjid batu, beserta adiknya yang mulia almarhum Moehammad Adam seorang guru Al Quran yang termasyur di Pariaman, bersama kemenakan-kemenakan beliau. Di belakang surau anjung ini ada sebuah surau kecil, sebagai wakaf dan almarhum tuan Haji Moehammad Noer yaitu kantomya Persatuan Tarbiyatul Islamiyah cabang Pariaman.

Mesjid letaknya lebih tinggi dari permukaan air yang mengalir di belakangnya. Sungai inilah yang mengalir di tengah-tengah kota yang membatasi antara pemerintahan penghulu kepala pasar dengan penghulu kepala Air Pempa. Dan mesjid ke sungai harus menuruni anak tangga dan batu yang dibuat tahun 1917 sebagai taman permandian anak negeri laki-laki. Di muka sungai dibuatkan kakus dan batu yang panjang 17 yang serta bagus dan kokoh buatannya, dibanding sebelah luar dihiasi dengan batu marmen yang berbunga-bunga dan berkilat, atapnya terbuat dari seng. Kakus batu ini dibuat sebagai renovasi kakus kayu yang lama, Kakus batu-batu ini dibuat tahun 1929, yang diusahakan oleh Sutan Oemar Ali alias Tambai Hulp Anderwijzer, anak kota Pariaman. Perantara kakus batu dengan surau anjung dari mesjid, begitu juga dengan surau Madrasah, berupa tanah yang lapang berpasir putih. Disini sekarang bergantung sebuah lampu pada tonggak besi yang bulat, sebuah lampu patromax besar yang sangat terang. Di sini pulalah tempatnya anak negeri duduk-duduk berkumpul sampai larut malam untuk menyenang-nyenangkan diri (menghibur hati). Mesjid ini dibuat tanggal 1 Muharam 1300 yaitu tahun Arab dengan kekuasaan dan kekuatan anak negeri pasar Pariaman sendiri.

Menurut riwayatnya batu tembok mesjid dibuat di suatu tempat bemama Pauh, kapumya dibuat sendiri dari karang laut yang diambil tiap hari jum’at dengan menggunakan perahu oleh anak negeri secara bersama-sama. Kayu-kayunya dicari sendiri ke negeri lain, di samping ada sumbangan dari orang-orang yang berasal dari negeri lain. Tukangnyapun berasal dari anak negeri sendiri secara bergantian setiap minggu. Tidak banyak tukang yang digaji, kecuali tukang yang sudah betul-betul ahli kuat bekerja, umpamanya nama tukang tersebur adalah almarhum tuan Toenoen, seorang tukang batu yang masyhur dan pandai. Gaji beliau perbulan adalah F 2,50. Namun beliau hanya bersedia menerima F 1,50 perhari selebihnya diserahkan untuk wakaf. Beliau bekerja dari awal hingga selesai mesjid. Selain itu ada pula tukang-tukang keamanan lainnya.

Biaya untuk pembangunan mesjid ini diperoleh sumbangan tiap rumah di pasar Pariaman sebesar sesen sehari berjalan kira-kira sepuluh tahun lamanya. Anak negeri yang bermacam-macam keinginan untuk menyumbang, ada yang membuat ronggok, membuat tangga, kulah dan lain sebagainya, bechrotingnya (bon pembarannya) diminta kepada orang tersebut. Apabila temyata masih kekurangan biaya biasanya anak-anak negeri mengerahkan tenaga tanpa dibayar. Dalam 10 tahun mesjid itu sudah berdiri dengan menaranya, dan barulah dipakai untuk beribadah. Bekerja untuk mesjid ini tidak ada henti-hentinya, berlangsung terus hingga selesal. Begitu mesjid ini dinyatakan sudah boleh dipergunakan untuk beribadah, banyaklah orang datang dari negeri lain sambi memberikan sumbangan berupa tikar, lampu dan lain-lainnya. Pendekny pembiayaan untuk mesjid ini tidak pemah meminta-minta ke orang di luar negerinya, terkecuali dengan kesadaran sendiri mereka datang menyumbang. Sesungguhpun yang mulai Tuam Sjeeh Moehammad Djamil sudah tua, tetapi beliau tetap sebagai guru negeri, tanpa mengidahkan ketuaannya, dan tidak merasa tinggi hati. Bersama-sama dengan anak negeri, beliau menyingsing lengan baju, membantu bekerja seperti mengangkat kayu dan pekerjaan lainnya. Orang yang tengah bekerjapun tidak pemah beliau tinggalkan. Beliau tidak hanya sekedar menyumbang tenaganya, tetapi juga hartanya untuk keperluan mesjid. Menurut perkiraan orang, sepertiga dari biaya (anggaran) mesjid berasal dari yang mulai sendiri, karena pemberian orang dari negeri lain untuk beliau secara pribadi tidak pemah sesenpun beliau gunakan untuk kepentingan pribadinya, semata-mata untuk kepentingan mesjid.

Di masa itu nama yang mulia sangat harum, sehingga bangsa asingpun banyak yang menaruh simpatik kepadanya. Acapkali yang mulia mendapat kiriman berupa wesel dari orang di luar negerinya, kiriman tersebut tidak pemah kurang dari f 10, minimal f 30, f 50, f 100. f 300 sampai f 500. Itulah sebabnya orang tua-tua mengatakan mesjid ini kepunyaan yang mulia sendiri, karena yang mulia yang mengusahakan, uang yang mulia banyak terpakai, dibantu sedikit oleh anak negeri, oleh karena itulah, anak negeri baik yang laki-laki maupun perempuan mati-matian bekerja membanting tulang secara bersama-sama anak negeri terjun bekerja untuk keperluan mesjid. Boleh dikatakan kemajuan mesjid ini, baik cepatnya pengerjaan, keelokkannya, kokohnya luar biasa dibandingkan dengan mesjid lain yang sudah ada di Pariaman. Baru inilah di Pariaman mesjid yang terbuat dari batu, lebih-lebih semangat dan kemauan serta kesepakatan anak negeri dalam bekerja jarang ditemukan sebuah mesjid batu yang memakan biaya kira-kira 100.000, yang diadakan atas kekuatan anak negeri sendiri.

Selain itu juga karena persatuan dan kesepakatan anak negeri yang selalu setia sekata antara yang tua dengan yang muda, yang mulia dengan yang hina, seciok bak ayam, sedancing bak besi, selanguh bak jawi. Yang berderajat tinggi tidak sombong, mau bergaul dengan yang hina, bekerja bersama untuk kepentingan umum, mempertinggi agama Tuhannya, Islam uang mulia suci, seumpama tuanku laras almarhum Moehammad Ali mahkota negeri dan rakyatnya. Kerendahan serta kesungguhan hati beliau itu menjadi perhatian seluruh rakyatnya, didukung pula oleh penghulu-penghulu, orang tua-tua dan cerdik pandai dalam negeri. Menjadi panutan dan teladan dalam bekerja, beliau selalu terjun lebih dulu daripada anak buahnya. Kesungguhan hati beliau untuk bekerja, menjadi suri teladan bagi semua anak negeri. Anak negeri, penghulu-penghulunya dan orang yang tua-tua serta cerdik pandai memberi dukungan untuk tampil kedepan. Merekapun rela berkorban, tidak memandang ke belakang, tidak memiliki kekecewaan. berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun bekerja bersama-sama dengan berderma barang sekedamya, supaya yang dicita-citakan dan diharapkan bisa segera terlaksana.

Yang mulia almarhum tuan Sjech Moehammad Djamil suluk bererang dalam negeri, sunur jemih di halaman, tak ada bandingannya jika yang mulia bekrrja. Keadaan yang mulia inilah yang menjadi cambuk bagi anak negeri, mendorong supaya anak negeri tampil. Sebaliknya anak negeri pun menaruh hormat kepada yang mulai, takut kehendak dan cita-cita yang mulai tidak menjadi berguna untuk kehidupan bersama. Begitulah sifat anak negeri Pasar Pariaman, berusaha meningkatkan syair Islam, mendirikan mesjid yang begitu megah, membela dan mencintai anak cucunya, supava dikemudian hari menjadi orang yang taat beribadat kepada Allah dengan senang hati. Cita-cita beliau benar, yang tua-tua berhasil, sehingga anak negeri Pasar Pariaman di masa ini belum ada yang perlu diperbaiki karena masih berdiri dengan kokoh. Mereka merasa girang dengan duduk beribadat semata-mata dalam mesjid yang molek tersebut. Jasa dan usaha orang tua-tua dahulu itu terkurung dalam mesjid itu, yang menjadi kenang-kenangan dari suri perhatian bagi anak negeri di masa ini dan masa yang akan datang. Cara inilah buahnya perstuan dan kesatuan, gunung yang besar lagi tinggi bisa runtuh oleh semut yang sekecil apapun.

Bangunan Mesjid

Kalau kita berdiri di tengah-tengah halaman, sebelah pinggir jalan raya menghadap ke mesjid, kita melihat dengan nyata pagar batu mesjid yang teratur jendelanya terbuka, atapnya bertingkat-tingkat ada 3 buah menara yang tingginya kira-kira 3 atau 4 dm, yang di tengah-tengah lebih besar dan lebih tinggi dari menara yang itu. Dari menara ini orang melihat bulan pada waktu akan berpuasa dan melihat matahari terbenam waktu akan berbuka puasa pada bulan Ramadhan dan di sini orang azan dan membaca Tazahir (mengucapkan selamat berbahagia yang maha mulia Saidina Muhammad SAW), sejak pukul 7-8 malam di bulan puasa dan dari pukul 11-12 tiap hari jumat, dan membaca Tarkim (memuji ketinggian dan kekuasaan Allah dan mengharapkan karuniannya) dan pukul 3-4 selama 30 malam di bulan puasa juga. Menara yang dua lagi agak rendah dan kecil dari menara yang di tengah-tengah. Dan 2 menara yang agak dan kecil ini orang azan pada tiap waktu Zuhur dan Ashar datang di bulan Ramadhan.

Jalan dan jenjang tempat masuk mesjid ada 4 buah, yang dua sebelah kiri kanan Mesjid, di jenjang yang dua ini tidak ada kulah (kolam), jika ada alas kaki ditinggalkan di tangga Mesjid, tangga yang dua lagi di belakang Mesjid itu, di sini ada enam kulah, empat kulah kecil tempat mencuci kaki kalau akan naik (masuk) Mesjid, yang dua lagi kulah besar tempat berwudhu (mengambil air sembahyang), di muka kulah yang dua ini, ada dua buah jenjang batu melekat pada dinding Mesjid. Di bawah jenjang ini ada sebuah tabung batu tempat uang yang bersedekah, ke mesjid, dari tangga inilah orang naik ke menara yang tiga itu.

Sebelah kiri kanan jenjang ada pintu besar dua buah tempat masuk ke mesjid. Bila kita sudah sampai ke dalam mesjid, kita melihat di tengah-tengah sebuah tonggak (tiang) baru besar sekali tingginya lebih kurang 5 meter, dan di sebelah bawah tonggak ini bentuknya empat persegi tingginya kira-kira 1 1/2 m, dan sebelah atasnya bulat segi delapan. Antara satu-satu segi penuh dengan ukiran yang sangat indah dulunya ukiran ini dicat dengan air emas, tetapi baru-baru ini ditukar dengan cat putih, seperti batu mar-mar rupanya, putih berkilat-kilat serta menarik hati dengan bunga-bunganya yang meakar-akar Cina, tonggak inilah bemama tonggak mercu.

Dekat tonggak mercu ini sebelah kanannya ada sebuah peti dari batu, kira-kira 1 m bujur sangkar, gunanya tempat penyimpanan uang mesjid, siapa yang berderma untuk keperluan mesjid dimasukkan ke dalam lobang yang ada pada sebelah atas peti itu, bila kita melihat ke atas kelihatan terali (pagar) tingkat pertama dari kayu yang dibentuk seperti bintang dengan berbagai wama, dan lotengnya cat berwama kuning air bercahaya bila kena sinar lampu petromak yang besar, buatan Surabaya.

Tonggak mercu ini dilingkari oleh 12 buah tonggak batu yang bulat kira-kira 6 meter jauhnya, antara satu tonggak dengan tonggak lainnya, sebelah atas tonggak-tonggak itu diberi ukiran sedikit, sungguh sedap dan indah dipandang mata. Di depannya ada lima buah galung yang penuh dengan, ukiran bunga-bunga yang dicat dengan berbagai wama yang tidak puas mata memandang. Antara galung-galung itu ada empat buah tonggak empat persegi bentuknya.

Di balik galung inilah, yaitu antara galung-galung dengan dinding Mesjid berdiri sebuah mimbar kayu tempat berkhotbah hari Jum’at. Mimbar ini dihiasi ukiran bunga-bunga yang bagus bercat air mas. Bentuk mimbamya empat persegi, anak jenjangnya 3 buah. Tinggi dan besamya sedang, tak dapat dilukiskan, bagaimana baik dan bagusnya mimbar ini. Mimbar ini pertama kali dipakai mesjid itu. Yang membuat mimbar ini ialah seorang tukang kayu agak tua mirhab sebuah ruang yang menjorok ke depan di tengah-tengah sebelah dinding muka, tempat iman sembahyang waktu hari jumat dan Hari Raya. Banyak jendela di dinding muka ini delapan buah, yaitu sebelah kanan dan kiri masing-masing empat buah jendela, dinding belakang dua buah jumlah sepuluh buah, jendela yang sepuluh ini lebih besar dari jendela yang di depan, jadi jumlah seluruhnya 14 buah. Banyak pintu masuk mesjid empat buah, yang dua di dinding belakang satu sebelah kanan dan satu sebelab kiri.

Sekeliling mesjid yaitu dinding sebelah kanan dan kiri begitu juga sebelah-sebelahnya pakai langkan. Di muka langkan, ada kamar tempat menyimpan harta benda mesjid. Waktu Sembahyang hari raya lebih-lebih Sembahyang Jumat penuh sesak mesjid, baik di dalam, di belakang kira-kira 1000 orang banyaknya sampai melimpah surau madrasah, kira-kira. Tiap-tiap awal waktu lima yaitu Zuhur, Ashar, Magrib, lsya dan Subuh, diadakan Sembahyang berkaum-kaum (Sembahyang bersama imam). Waktu Sembahyang zuhur pukul 12.30, Ashar 15.30, Magrib pukul 18.00, Isya pukul 19.30 dan Subuh pukul 15.30.

Seperempat jam sebelum waktu Sembahyang ini dibunyikan gendang-gendang di surau samping (memperingatkan waktu Sembahyang akan datang), mendengar gendang-gendang prrtama bagi yang jauh agar bersegera datang ke mesjid dan bagi yang ada di mesjid bersegera pula membayarkan hajatnya yaitu mandi, buang air, berwudhu (bersuci) dan lain-lain. Setelah tiba waktu yang celah ditentukan dibunyi gendang-gendng sekali lagi (memberitahukan waktu Sembahyang telah datang), mendengar ini azanlah salah seorang di mesjid dengan suara yang keras dan nyaring berarti memanggil orang banyak untuk bersembahyang berkaum-kaum bersama-sama. Setelah azan lalu komat, barulah mulai Sembahyang, dan seorang maju ke muka orang banyak berbaris-baris (Bershaf-shaf ) di belakang imam, yang paling di muka itulah yang disebut imam. Di mesjid pasar ini semenjak yang mulia Syech Moehammad Djamil meninggal dunia, dibenum (diangkat, ditetapkan) oleh anak negeri seorang yang akan menjadi imam tiap-tiap hari Sembahyang lima waktu, yaitu murid (chalifah) yang mulia sendiri, yang bemama Syech Sidi Zainuddin, bertitel Syech pula.

Waktu Sembahyang Magrib dan Isya, gendang-gendang dibunyikan sekali saja. Banyak orang Sembahyang berkaum-kaum di waktu Subuh lebih kurang dua shaf (satu shaf banyaknya kira-kira 40 orang), Zuhur empat shaf dan Ashar tiga shaf, Magrib enam shaf kadang-kadang sembilan shaf, Isya banyak lagi orang Sembahyang berkaum-kaum dari yang sudah-sudah, waktu Sembahyang Isya sampai sepuluh shaf, kadang-kadang melimpah ke langkan paling kurang enam shaf. Menjaga kebersihan dan ketertiban mesjid ini sangat keras, tidak boleh merokok, tidak tidur, berkata keras-keras yang tidak sesuai agama, tidak mencuci kaki naik dan masuk ke mesjid, untuk mejaga kebersihan diangkat seorang garin, yang pekerjaannya menyapu, memasang atau menghidupkan lampu, mengisi kulah dan lain-lain. Biaya untuk keperluan mesjid ini ditarik dari derma anak negeri tiap hari Jum’at dan lain hari, hampir tiap minggu mobil dan dos (bendi) berhenti di pekerangan mesjid, membawa penumpang laki perempuan, mengujungi mesjid ini melunaskan niat dan nazamya membawa makan makanan yang akan disedekahkannya kepada orang-orang yang ada di mesjid. Waktu gempa bumi keras yang merugikan seluruh Minangkabau, meruntuhkan rumah-rumah, toko-toko dan mesjid-mesjid yang terbuat dari batu, yang tak temilai banyaknya kerugian, yaitu terjadi pada tahun 1926, sedangkan mesjid pasar Pariaman jangankan runtuh, terakpun tidak, untuk menerangkan dengan panjang lebar, takut memberikan keterangan yang tidak baik dan benar, menunjukkan salah benamya keterangan ini hanya tergantung kepada pendapat para pembaca.

Tarikh yang mulia almarhum Syech

Moehammad Djamil Alchalidi

Yang mulia tuan Syech Moehammad Djamil putra kota Pariaman, lahir tahun ibu bemama Tadoe dan bapaknya bemama Abdoel Wahab, yang mulia bertujuh barsaudara seibu sebapak laki-laki semuanya yang tua yang mulia sendiri, yang tengah tuan Soeleman, menjadi lebai di mesjid, yang bungsu tuan Moehammad Adam menjadi guru Qur’an yang masyhur di Pariaman, kedua saudara yang mulia dulu wafat dari sang mulia. Semasa kecil yang Mulia terbilang keras hati, berkelakuan keras dan dibilang jahat juga oleh teman-teman yang mulia. Setelah yang mulia agak dewasa mulai belaiar Al-Qur’an kepada almarhum Kari Abas. Dalam belajar yang mulia termasuk yang pandai dan diangkat oleh guru, menjadi guru tua (guru bantu). Bukannya ilmu agama saja yang mulia kuasai, ilmu keduniawian juga dituntut sehingga yang mulia pandai membuka pintu rumah orang dengan merentakkan kaki di jenjang rumah itu. Pada pengarang yang mulia bercerita yaitu di masa kecil. Boen (sebutan yang mulia kalau bicara dengan orang) sesudah larut malam, Boen pergi berjalan-jalan, Boen merantakkan jenjang rumah orang, pintu rumak itu terbuka sama sekali, tapi untunglah tak ada langkah Boen yang sesat, tidak pemah mencuri sekalipun, hanya kegemaran saja Ocia (ibu) acapkali marah-marah kepada Boen, kapan kamu masuk ? siapa yang membukakan pintu sekolah di Pariaman. Kemudian yang mulia pergi ke Tjangking (kampung kecil di Bukit Tinggi) menyambung pelajaran yang mulia tentang seluk beluk agama yaitu Tekah, Tauhid Tashauf, kepada yang mulia almarhum tuan Syech Moehammad Thaeb.

Kira-kira tiga tahun yang mulia di situ, kembali ke Pariaman mengembangkan ilmu pengetahuan. Di sini yang mulia memperistri Pati, yang mulia berdagang kain, ke negeri lain, seperti ke Natal sampai ke Sibolga, ke Pulau Pinang Perak, Kolang dan ke lain-lain negeri. Waktu itu juga yang mulia berangkat ke tanah suci yaitu Mekkah menunaikan rukun Islam kelima. Setahun yang mulia di sana, kembalilah yang mulia ke Pariaman untuk menetap, dan mengajar anak negeri beragama Islam Sepulang dari Mekkah yang mulia berusaha membuat Surau anjung. Nama beliau bertambah harum dan kesohor, sehingga banyak orang dari negeri lain datang ke Pariaman belajar agama, seperti belajar Qur’an dan lain-lainnya. Nama kecil beliau Habiboen, itu sebabnya beliau menyebut dirinya Boen-boen kalau bicara dengan orang lain. Hal semacam ini sudah menjadi kebiasaan. Di Pariaman baik laki-laki, maupun perempuan, umpamanya nama Syamsuddin disebut Din-Din dan Syamsiah disebut Yah-Yah saja sebagai ganti sebutan saya, di samping sebutan buyung untuk laki laki dan Upik untuk perempuan. Di Mekkah nama yang mulia diganti dengan Moehammad Djamil nama inilah yang terkenal sampai sekarang. Setelah itu yang mulia belajar ilmu Tharikat Nakhsyabandiyah kepada Shech Abu Bakar. Dari shech inilah mendapat sebutan chalifah (guru) dan dalam ijazah menerangkan ilmu tharikah Nakhsyabandiyah dari ulama-ulama sampai kepada yang maha mulia Abu Bakar Shiddik Radhiallahu’anhu terus kepada junjungan kita Sayidina Muhammad saw.

Kemudian yang mulia mengajarkan ilmu tharikat itu kepada anak negeri sehingga banyak pula anak negeri yang mendapat gelar chalifah dari yang mulia, seperti Tuan Sutan Pamenan, Tuan Bagindo Maharajo, Tuan Sidi Zainuddin imam yang sekarang. Tuan Sidi, Chatib menjadi pegawai mesjid, Chatib panggilannya, Tuan Sidi Pauh, Tuan Dja’far. Tuan Haji Hasan, keduanya anak dari yang mulia dan lain-lainnya. Diwaktu itulah yang mulia bekerja dibantu oleh Sutan Moehammad Ali, Tuanku Laras bersama-sama anak negeri membuat mesjid batu sekarang ini. Semenjak yang mulia menyiarkan agama Islam yang maha suci itu, banyak pula cobaan-cobaan Allah yang diderita oleh yang mulia hingga wafat, sebagaimana yang diderita oleh pemuka agama Allah, nista dan maki seperti hujan lebat kepada yang mulia, asutan-asutan dan fitnah-fitnah sebagai air mengalir kepada yang mulia.Yang Mulia sangat shaleh, taat beribadat kepada Allah, sehingga sepanjang waktu digunakan hanya untuk beribadah saja, hidup yang mulia sederhana dari sedekah-sedekah orang, lebih dari cukup. Yang mulia terbilang tidak kaya atau berada, tidak bertanah dan berharta benda, untuk nafkah dari dermaan arang. Anak-anak perempuan yang mulia cukup dengan rumah tangganya yang sederhana, begitulah pengakuan dari kasih Nya Allah kepada yang mulia. karena sangat taat dan sangat pandai bergaul dengan anak negeri besar kecil, sehingga anak negeri hormat dan takut kepada yang mulia, kecuali orang yang dengki dan khianat kepada yang mulia. Wajah yang mulia sebagai matahari dipandang orang, sebagai bapak oleh anak negeri, tempat berlindung di waktu panas, tempat berteduh di waktu hujan, tempat mengabarkan buruk baik oleh anak negeri, tiap anak negeri akan berjalan dan kembali dari perjalanan jauh atau dekat, perlu baginya menemui yang mulia terlebih dahulu, Waktu yang mulia masih kuat berjalan, tidak ketinggalan untuk menghadiri kenduri, menjenguk orang-orang sakit, tidak dibedakan orang hina dan mulia, orang kaya atau miskin, asal diberitahu yang mulia mendatanginya.

Dua atau tiga tahun sebelum yang mulia meninggal dunia, beliau sudah uzur benar, pertama karena sudah tua, kedua karena dihinggapi sakit pinggang. Waktu itu yang mulia tidak pemah jalan keluar lagi, kecuali dari surau anjung ke mesjid dan ke batang air sungai), karena yang mulia bertempat tinggal di surau anjung. Setahun atau dua tahun sebelum wafat, yang mulia tidak kuasa lagi ke mesjid dan ke batang air lagi, segera dibuat kakus dan kulah di surau anjung, kakus untuk buang air dan kulah untuk tempat mandi dan berwudhu. Di surau anjung sana yang mulia beribadah, karena tidak kuat lagi duduk lama-lama yang mulia tidur saja di tempat yang mulia.

Semenjak yang mulia menjalankan agama Islam yang maha tinggi, boleh dikatakan hilang pula secara berangsur-angsur kepercayaan yang bukan-bukan, teratur adat budi pekerti sesuai agama. Terasanya agama berjalan hingga zaman ini, secara terus-menerus anak negeri seolah-olah mendapatkan baju sudah, tinggal memakai saja lagi, mendapatkan nasi masak, tinggal memakan saja lagi. Selama mendaki tentu akan turun lagi, pada bulan Jumadil Akhir, waktu pengarang berada di Padang Panjang bersama-sama dengan anak yang mulia Abdul Hamid dan menantu yang mulia tuan Bagindo Isa Kadhi, untuk belajar agama pada yang mulia tuan Syech Moehammad Djamil Djaho, datang sebuah surat dari Pariaman menyuruh pulang anak dan menantu yang Mulia pulang ke Pariaman karena yang mulia sakit keras. Pengarang pun ikut pulang bersama-sama, walaupun pengarang tidak disuruh pulang, tetapi karena yang mulia sudah dianggap bapak oleh anak negeri, sedangkan pengarang anak kota Pariaman pula, patut pula pulang ke Pariaman, menenguk yang mulia yang sedang sakit, takut kalau-kalau pengarang tidak akan berjumpa lagi dengan yang mulia. Setibanya kami di Pariaman, sakit yang mulia sudah berkurang sedikit, waktu yang mulia tidak berdaya lagi turun dari tempat tidur.

Pada hari Kamis malam atau Jum’at 19 Sya’ban 1347 waktu pengarang tidur nyenyak di rumah orang tua pengarang sendiri, datanglah orang mengetuk pintu memanggil-manggil ibu pengarang, bahwa yang mulia bertambah keras sakitnya. Mendengar hal itu pengarang terbangun, sendi anggota badan lemah rasanya, air mata sudah bercucuran mengenang jasa-jasa yang mulia dan mengingat bagaimana nasib anak negeri kalau yang mulia menghembuskan nafas yang terakhir. Dengan tergesa pengarang bersama ibu, terus menuju surau anjung tidak mengindahkan dingin karena turunnya embun tengah malam. Hari terang benderang, bumi bertunggul-tunggul (berundak-undak) rasanya dipijakkan, langit seperti menjeram rasanya dipandang mata. Di tempat yang mulia sudah penuh oleh anak-anak dan famili yang mulia. Di depan yang mulia duduk kemenakan yang mulia tuan Bagindo Djalaloeddin Thaib dan tuan Syech Sidi Zainoeddin, duduk di sebelah kepala yang mulia adalah Tuan Haji. Sutan Darab cucu yang mulia, tempat yang mulia semakin penuh oleh orang-orang yang datang, Pukul lima yang mulia menyuruh orang sembahyang Subuh, sesudah sembahyang Subuh kembali ke tempat yang mulia, kamar yang mulia sudah penuh sesak oleh orang yang datang hingga melimpah keluar, yang mulia menyuruh membacakan Qur’an, tuan Bagindo Isa Kadhi, menantu yang mulia mengambil Qur’an lalu langsung membaca. Pukul 5,30 sehabis Qur’an dibacakan, yang mulia menghembuskan nafas yang terakhir dengan menutup matanya.

Aduh bagaimana rasa sedih hati anak negeri atas, kewafatan (kemangkatan) yang mulia itu, bapak yang akan menunjuk mengajari itu tak ada lagi. Bagaimana sedih hati pengarang waktu itu tidak dapat pengarang ceritakan, lebih-lebih lagi melihat yang mulia menghembuskan nafas yang penghabisan. Tersebarlah berita ke sekeliling negeri atas kewafatan yang mulia penunjuk keselamatan, yang utama, banyak kawat yang dikirim keluar negeri, kepada ulama-ulama dan lain-lainnya.

Surau anjung yang besar itu penuh sesak oleh kaum wanita bangsa Tionghoapun datang juga turut menyatakan duka citanya atas mangkatnya yang mulia, semua diam tidak berdetik karena duka citanya, kaum laki-laki penuh sekeliling surau itu. Dari kampung-kampung yang lain pun beruyun-duyun datang laki-laki perempuan menziarahkan mayat yang mulia, maklumlah hari itu hari jum’at pula.

Kubur digali orang-orang dekat perkuburan saudara yang mulia almarhum guru Qur’an yang masyhur. Kira-kira pukul sebelas siang yang mulia dimandikan orang. Setelah selesai mandi yang mulia di kafani ditidurkan di alas tilam dan diselubungi dengan kain-kain yang berharga, terus diangkat ke mesjid. Orang banyak sembahyang Jum at, sesudah sembahyang Jum ‘at lalu semua orang menyembabyangkan yang mulia, bunvi tangis bergemuruh di dalam Mesjid, sesudah disemayamkan di mesjid lalu diusung sepanjang jalan diiringi ramai-ramai menuju kuburan sampai yang mulia dikuburkan srtelah tanah didatarkan atau diratakan tuan Haji Sutan Darab membacakan talkim dalam bahasa Arab, sementara itu orang banyak duduk berbaris mendengarkanya. Kemudian semua orang bersama-sama bertahlil membaca kalimat Tauhid (Lailahaillallah).

Setelah selesai Tahlilan do’a dibacakan oleh tuan Sidi Zainoeddin orang banyak menggangkat kedua tangannya arah ke langit dengan membaca amin artinya perkenankanlah ya Allah. Setelah selesai membaca do’a, tuan Haji Andah berdiri memberi nasehat kepada orang banyak, dan tuan Moehammad Shiddik bendiri mengucapkan terima kasih kepada tuan Haji Andah dan berharap agar segala nasihat tuan Haji Andah diamalkan oleh pendengar. Kemudian orang banyak pulang dengan termangu-mangu. Negeri sunyi senyap menunjukkan duka Cita atas meninggalnya yang mulia.

Sesudah sembahyang Magrib anak negeri yang laki-laki penuh sesak dalam mesjid karena akan mengambil putusan siapa yang disukai oleh anak negeri menggantikan yang mulia. Kebulatan suara untuk menggantkan yang mulia tentang urusan agama, adalah tuan Sidi Zainoeddin murid yang sangat dikasihi oleh yang mulia, dan untuk menggantikan urusan yang mulia tentang kemuslihatan mesjid tuan Bagindo Dialaloeddin Thaib kemenakan yang mulia. Do’a dibacakan oleh tuan Sidi Chatib sebagai mensahkan pengangkatan itu dan mengharapkan kumia Allah, mudah-mudahan beliau yang berdua itu selamat segala urusan, dan anak negeri hidup dengan damai sebagai sediakala sebagaimana waktu yang mulia masih hidup.

Esoknya hari Sabtu malam Ahad sesudah sembahyang Magrib, segala harta benda yang mulia seperti kain baju, kitab-kitab dan lain-lainnya dijual kepada anak negeri, dan habis terjual semua dengan harga yang baik sekali. Baik baju yang mulia yang usang-usang berharga f 1, setinggi-tingginya dibeli orang f 4, sebuah tongkat berharga f 1, juga dibeli orang f 12,50, sehingga uang-uang kecil satu sen dibeli orang f 1. Semua barang yang mulia itu terjual 1900 lebih. Hari Jumat berikutnya diadakan oleh anak negeri kenduri besar menyembelih kerbau, meminta doa selamat sejahtera kepada Allah serta menegakkan batu mejan (dua, buah dari batu batu nisan dari semen, ditulis hari lahir dan harri meninggalnya yang mulia pada batu itu), dan batu itu ditanamkan sebelah kepalanya, yaitu yang bertulis, dan satu lagi sebelah kakinya.

Sejak hari wafatnya yang mulia sampai sekarang tidak berhenti-hentinya orang menziarahi kuburan yang mulia itu diantara anak negeri yang hendak berjalan jauh atau pulang dan berjalan jauh tidak lupa ziarah ke kubur yang mulia.

WISATA

Menurut Rencana Umum dan Detail Tata Ruang Kota Pariaman, terdapat informasi bahwa Kota Pariaman nantinya akan berfungsi sebagai Kota Pariwisata. Hal ini didukung oleh banyaknya potensi objek wisata yang memiliki prospek cerah seperti kawasan garis pantai, kesenian tradisional anak nagari, apalagi dengan adanya pengakuan Pemerintah Pusat bahwa Tabuik, akan ditingkatkan dari status Major Event menjadi Court Event.

Faktor lain yang memungkinkan Kota Pariaman berkembang sebagai Kota Pariwisata adalah telah dikenalnya hasil sulaman indah Naras ke seluruh pelosok tanah air dan bahkan ke beberapa negara tetangga seperti Singapura, Malaysia dan Brunai Darussalam.

PIAMAN SEKILAS

Kota Sala Lauak Itulah Julukan Kota Pariaman. Kota yang dikenal dengan perayaan Tabuik yang diselenggarakan setiap tanggal 10 sampai 10 Muharam berdasarkan kalender Islam. Sebuah lagu yang menyatakan betap besarnya pengaruh kegiatan Tabuik itu menyatakan ” Piaman Tadanga Langang Batabuik Mangkonyo Rami”

Kota Piaman Merupakan Sebuah Kota yang terletak pada pesisir pantai propinsi Sumatera Barat Kota Pariaman Berjarak lebih kurang 60 Km dari Padang Ibukota Propinsi Sumatera Barat.

Kota Pariaman resmi berdiri semenjak disahkannya Undang-Undang No 12 Tahun 2002 Tentang Pembentukan Kota Pariaman. Kota Pariaman yang terletak antara 0,330 Lintang Selatan dan 100,160 Bujur Timur dengan suhu rata-rata 24,49 – 25,60C yang terdiri atas 3 kecamatan dan 17 desa/Kelurahan , yaitu Pariaman Tengah yang berpusat di Pariaman dengan luas 23,85 Km2, Pariaman Utara yang berpusat di Naras dengan luas 28,45 Km2 dan Pariaman Selatan yang berpusat di Kurai Taji dengan luas 21,12 Km2 dengan garis pantai sepanjang 12 Km. Penduduk Kota Pariaman Berjumlah lebih kurang 72.000 jiwa.

Adapun batas batas wilayah Kota Pariaman :  Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan V Koto Kampung Dalam Kabupaten Padang Pariaman, Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan VII Koto Sungai Sarik Kabupaten Padang Pariaman, Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Nan Sabaris Kabupaten Padang Pariaman  dan Sebelah barat berbatasan dengan Samudera Indonesia.

Pariaman di zaman lampau merupakan daerah yang cukup dikenal oleh pedagang bangsa asing semenjak tahun 1500an. Catatan tertua tentang Pariaman ditemukan oleh Tomec Pires (1446-1524), seorang pelaut Portugis yang bekerja untuk kerajaan Portugis di Asia. Ia mencatat telah ada lalu lintas perdagangan antara India dengan Pariaman, Tiku dan Barus.

Dua tiga kapal Gujarat mengunjungi Pariaman setiap tahunnya membawa kain untuk penduduk asli dibarter dengan emas, gaharu, kapur barus, lilin dan madu. Pires juga menyebutkan bahwa Pariaman telah mengadakan perdagangan kuda yang dibawa dari Batak ke Tanah Sunda.

Kemudian, datang bangsa Perancis sekitar tahun 1527 dibawah komando seorang politikus dan pengusaha yakni Jean Ango. Ia mengirim 2 kapal dagang yang dipimpin oleh dua bersaudara yakni Jean dan Raoul Parmentier. Kedua kapal ini sempat memasuki lepas pantai Pariaman dan singgah di Tiku dan Indrapura. Tapi anak buahnya merana terserang penyakit, sehingga catatan dua bersaudara ini tidak banyak ditemukan.

Tanggal 21 November 1600 untuk pertama kali bangsa Belanda singgah di Tiku dan Pariaman, yaitu 2 kapal di bawah pimpinan Paulus van Cardeen yang berlayar dari utara (Aceh dan Pasaman) dan kemudian disusul oleh kapal Belanda lainnya. Cornelis de Houtman yang sampai di Sunda Kelapa tahun 1596 juga melewati perairan Pariaman.

Tahun 1686, orang Pariaman (Pryaman seperti yang tertulis dalam catatan W. Marsden) mulai berhubungan dengan Inggris.

Menurut riwayatnya sejak tahun 1880 Kota Pariaman tempat pelabuhan kapal juga, sebagaimana pelabuhan Bengkulu dan Sibolga, tetapi sejak masuknya kereta api ke Pariaman pada tahun 1908 tak ada lagi kapal yang berlabuh sampai sekarang. Di masa ini masih kelihatan juga bekas pelabuhan itu, yaitu beberapa tonggaknya yang timbul di muka laut kelihatan waktu pasang surut, juga gudangnya masih ada, sekarang dipergunakan menjadi kantor BCW. Lautan ini acapkali menimbulkan bahaya yang menyebabkan kerugian besar bagi anak negeri. Sudah hampir 1 kilometer panjangnya pasir yang tertimpa pohon kelapa tumbang dan banyak rumah yang menjadi korban keganasan laut itu, sehingga menjadi lautan.

Sudah beratus ribu kerugian pemerintah untuk mencegah bencana laut itu. Batu yang besar-besar yang banyaknya bergerobak-gerobak dibuang ke laut, disusun di tepi (hlm. 3) pantai itu, begitu juga besi-besi penghalang parit, semuanya musnah diterjang air laut. Rel kereta api sudah tiga kali “diasak-asak” (dirombak) sampai sekarang. Bila ombak besar datang, diterpanya rel-rel kereta api itu. Meskipun demikian, ada juga manfaat rel-rel itu sebagai penahan serangan atau deburan ombak yang berbahaya. Menurut adat, kalau tidak demikian, Pasar Kota Pariaman yang terletak lebih kurang 1km dari stasiun sudah menjadi lautan belaka.

Masyarakat anak negeri selalu berdoa kehadirat Allah bahaya laut itu tidak ada lagi. Kota Pariaman di tahun 1860 tempat kedudukan ‘regent’ dan “assistent resident”, tetapi di tahun 1880 tempat kedudukan “controleur” dan “Tuanku Laras” saja. Sekarang “Laras” itu sudah ditukar dengan “Tuanku Demang”. Kota Pariaman tidak terlalu ramai, jalan-jalannya tidak simpang siur. Udaranya agak panas (hlm. 4). Dahulunya pada tahun 1880 di Kota ini hanya terdapat sebuah sekolah Gouvemement kelas II, karena penduduknya terus bertambah berjumlah kira-kira 10.000 orang, sedangkan jumlah sekolahnya hanya 1 buah. maka sekolah di kota ini ditambah dan sudah berdiri 3 buah sekolah Gouvemement klas II, I buah sekolah HIS. I buah Meisjesvolkschool dan 2 buah sekolah negeri (Desa). Sungguhpun begitu belum juga mencukupi bagi keperluan anak negeri. sehingga banyak pula sekolah-sekolah partikulir yang didirikan sebagai sekolah schajek school Moehammadiyah yang dikelola oleh Moehammadiyah cabang Pariaman, I buah sekolah agama Diniyah school yang dikelola oleh satu Vereeniging pula, I buah lagi sekolah agama Tabijjatoel Schijan yang dikelola oleh I Vereeniging lain pula dan 1 lagi sekolah agama Tarbiyah Islamiyah yang dikelola oleh Persatuan Tarbiyatul lslamiyah (PTI) cabang Pariaman. Di sini juga (hlm.5) berdiri sebuah sekolah menjahit yang dikelola oleh keputrian cabang Pariaman dan 1 buah sekolah pertukangan kayu (Ambacschool) yang dikelola oleh Persatuan Muslim Indonesia cabang Pariaman dan sebuah sekolah tenun yang diusahakan oleh kumpulan guru-guru. Sungguh demikian tidak juga mencukupi untuk keperluan anak negeri.

Dahulu di tahun 1925 didirikan pula sekolah HIS Soppan yang dikelola oleh satu vereeniging lain pula, dan satu sekolah tenun yang didirikan pada tahun 1915 yang dikelola oleh satu vereeniging pula, tetapi kedua sekolah ini tidak ada lagi. Begitu juga di Kota Pariaman ini tinggal bermacam-macam bangsa (pengertian bangsa disini tidak sama artinya dengan pengertian nasion dalam bahasa lnggeris, tetap hendaknya diartikan sebagai bangsa-bangsa yang mencerminkan ras atau keturunan atau suku bangsa), seperti bangsa kulit putih. Bangsa Tionghoa, bangsa Nias, bangsa Keling, dan bangsa Jawa, kampung-kampung yang didiami bangsa-bangsa ini diberi nama seperti kampung Nias, dan kampung Cina, kecuali bangsa kulit putih (hlm. 6) karena tidak banyak yang berdiam di Kota Pariaman dan mereka tidak pula menetap tetapi berpindah-pindah, walaupun perkuburannya ada di Kota Pariaman ini yang terletak tidak jauh dari pasar dan bernama perkuburan Belanda. Di Kota ini jarang sekali terdapat tanah yang ditanami tumbuh-tumbuhan atau dijadikan sawah, hanya semata-mata dipenuhi oleh rumah-rumah tempat tinggal anak negeri. Di tengah Kota ini dilalui sebuah sungai yang menjadi pembatas dua pemerintahan kepala negeri dengan pemerintahan kepala negeri pasar 11 dengan pemerintahan kepala air Pampan. Pemerintahan kepala negeri pasar inilah yang amat sempit tanahnya, tidak ada rumah-rumah yang berpekarangan sehingga cucuran atap satu rumah dengan rumah yang lain hampir bertemu. Di pemerintahan kepala negeri pasar inilah terdapat rumah Controleur, kantor-kantor, penjara, dan stasiun negeri Kota Pariaman. Di sini pulalah dibangun pasar tempat menjual segala macam barang. Bangsa yang mendiami Desa ini ialah (hlm.7) bangsa keling dan bangsa kulit putih saja. Dalam desa pemerintahan penghulu Air Pampan terdapat kantor dan tempat tinggal Veldpohitie, poliklinik, 5 buah sekolah, 2 buah sekolah gouvemement kelas II, I sekolah Mesjes volkschool, I sekolah negeri. 1 sekolah schkelschool dan 1 lagi sekolah Agama Diniyaschool, dan sebuah gedung komodi gambar. Juga di sini berdiri pula mesjid batu yang bernama mesjid Air Pampan. Adat Istiadat anak negeri kedua pemerintahan sama saja. Sumber : Naskah Kuno Pariaman Oleh : Baginda Said Zakaria 1932

Sebagai daerah yang terletak di pinggir pantai, Pariaman sudah menjadi tujuan perdagangan dan rebutan bangsa asing yang melakukan pelayaran kapal laut beberapa abad silam. Pelabuhan entreport Pariaman saat itu sangat maju. Namun seiring dengan perjalanan masa pelabuhan ini semakin sepi karena salah satu penyebabnya adalah dimulainya pembangunan jalan kereta api dari Padang ke Pariaman pada tahun 1908.

Dengan lika-liku perjuangan yang amat panjang menuju kota yang definitif, Kota Pariaman akhirnya resmi berdiri sebagai Kota Otonom pada tanggal 2 Juli 2002 berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kota Pariaman di Sumatera Barat. Sebelumnya Kota Pariaman berstatus Kota Administratif dan menjadi bagian dari Kabupaten Padang Pariaman berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 1986. Kotif Pariaman diresmikan tanggal 29 Oktober 1987 oleh Mendagri Soepardjo Roestam dengan Walikota pertama Drs. Adlis Legan. Perjuangan menuju kota administratif inipun cukup berat. Namun berkat kegigihan dan upaya Bupati Padang Pariaman saat itu, Anas Malik, Kotif Pariaman pun dapat direalisir.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.